Substansi dan Trinitas tidak mungkin disatukan.

Kemandirian ontologis adalah kunci yang membuat substansi dan Trinitas semakin tidak mungkin disatukan.

Mari kita perjelas:

Kemandirian ontologis berarti:

· Substansi tidak memerlukan yang lain untuk ada (eksistensi) maupun untuk dipahami (inteligibilitas).
· Substansi adalah sumber keberadaannya sendiri (asetas) atau setidaknya tidak tergantung pada subjek lain.

Jika setiap Pribadi Trinitas diklaim sebagai substansi, maka:

1. Bapa ada tanpa tergantung pada Putra atau Roh.
2. Putra ada tanpa tergantung pada Bapa atau Roh.
3. Roh ada tanpa tergantung pada Bapa atau Putra.

Masalahnya: Dalam doktrin Trinitas, justru relasi antar-Pribadi bersifat konstitutif. Putra didefinisikan sebagai "diperanakkan oleh Bapa" — tanpa Bapa, Putra bukan Putra. Artinya, identitas Pribadi tergantung secara intrinsik pada relasi dengan yang lain. Ini langsung bertentangan dengan kemandirian ontologis substansi.

Sebaliknya:

· Substansi yang mandiri secara ontologis → identitasnya tidak tergantung pada relasi dengan yang lain.
· Pribadi Trinitas → identitasnya justru ditentukan oleh relasi (Bapa = yang memperanakkan, Putra = yang diperanakkan).

Kesimpulan: Semakin tajam definisi substansi (terutama kemandirian ontologis), semakin jelas bahwa pribadi Trinitas tidak mungkin disebut substansi. Bukan hanya masalah "tiga vs satu", tetapi cara keberadaan Pribadi Trinitas (relasional, konstitutif) berlawanan dengan hakikat substansi (mandiri, non-relasional dalam esensinya).

Oleh karena itu, teolog yang konsisten sejak awal sudah menolak mempersonakan substansi.  Karena dogma klasik tidak pernah mengatakan "Pribadi adalah substansi".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Metodologis Atas Trinitas Klasik

Sebagai Saksi Allah