Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2026

Shelachani; pernyataan identitas diri ilahi yang bersifat refleksif dan misterius, yang kemudian menjadi dasar bagi pemahaman bahwa sang Pengutus dan yang Diutus adalah satu dalam hakikat ilahi

Teks dan Konteks Kel 3:14b (BHS): אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה ... אֶהְיֶה שְׁלָחַנִי אֲלֵיכֶם Struktur kalimat terakhir: אֶהְיֶה (ehyeh) + שְׁלָחַנִי (shelachani) + אֲלֵיכֶם. Analisis Gramatikal שְׁלָחַנִי Kata שְׁלָחַנִי terdiri dari: · שָׁלַח (shalach) — verba Qal perfek, akar שׁ־ל־ח, "mengutus" · ־נִי (ni) — sufiks pronominal objek orang pertama tunggal, "aku/me" Jadi secara morfologis: "Dia mengutus aku" — di mana -ni adalah objek dari verba "mengutus", bukan subjek. Siapa yang Dimaksud -ni? Ini inti persoalan. Ada dua kemungkinan pembacaan: Opsi 1: -ni menunjuk pada pembicara (Allah) Jika demikian, kalimat dibaca: "Aku (Allah) telah mengutus aku (Musa)" — yang secara gramatikal canggung, karena subjek verba שָׁלַח tidak eksplisit dan -ni adalah objek. Pembacaan ini memerlukan pemahaman bahwa "Aku" (ehyeh) adalah subjek yang berbicara, dan -ni merujuk pada Musa sebagai objek utusan. Namun masalahnya: dalam kalimat ini tidak ada...