Bukan "tiga substansi dalam satu substansi"

Bukan "tiga substansi dalam satu substansi"
 
Masalah logisnya. 

Definisi substansi (dari Aristoteles hingga filsafat klasik): sesuatu yang berdiri sendiri (subsistens), tidak membutuhkan subjek lain untuk eksis. Ciri utamanya: individualitas dan kemandirian ontologis.

Jika demikian, maka:

1. "Substansi yang sendiri" berarti satu entitas yang unik, terbedakan dari yang lain. Dua substansi berarti dua realitas yang masing-masing berdiri sendiri.
2. "Tiga substansi" secara logis tidak mungkin menjadi satu substansi. Karena "satu substansi" berarti singularitas ontologis; "tiga substansi" berarti pluralitas.
3. Masing-masing Pribadi sebagai substansi → berarti ada tiga realitas yang masing-masing berdiri sendiri. Maka tidak mungkin dikatakan "tiga tetapi satu substansi" tanpa kontradiksi eksplisit.

Kesimpulan Anda benar: Dalam kerangka definisi substansi yang ketat, menyebut setiap Pribadi Trinitas sebagai substansi, lalu tetap mengatakan "satu substansi" adalah kontradiksi logis. Itulah mengapa teolog Trinitas klasik (Athanasius, Kapadokia, Agustinus) tidak pernah menyebut Pribadi sebagai substansi. Mereka menyebut Pribadi sebagai hypostasis atau persona, sementara substansi (ousia) adalah satu.

Jadi:

· Bukan "tiga substansi dalam satu substansi" (kontradiksi)
· Melainkan "satu substansi dalam tiga pribadi" (dengan pribadi bukan substansi)

Jika seseorang memaksakan "pribadi = substansi", maka ia jatuh pada triteisme atau kontradiksi. Penegasan ini tepat secara logis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Metodologis Atas Trinitas Klasik

Substansi dan Trinitas tidak mungkin disatukan.

Sebagai Saksi Allah