Perjamuan Kudus Bukan Sekadar Simbol
Perjamuan Kudus: Bukan Sekadar Simbol, Melainkan Persekutuan Nyata dengan Kristus
Pendahuluan
Perjamuan Kudus sering dipahami sekadar sebagai ritual peringatan kematian Yesus. Namun, diskusi ini bertolak dari pertanyaan mendasar: Apakah Perjamuan Kudus hanya simbol, atau ada realitas kehadiran Kristus yang sungguh-sungguh di dalamnya? Melalui penelusuran Alkitab dan perbandingan dengan Tiang Ular, kita akan melihat mengapa Perjamuan Kudus tidak bisa direduksi menjadi sekadar simbol kosong.
1. Perjamuan Kudus dalam Alkitab
Ayat-ayat utama tentang Perjamuan Kudus:
· 1 Korintus 10:16 – "Bukankah cawan pengucapan syukur yang kita ucapkan, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan, adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?"
· 1 Korintus 11:23-26 – Perintah Yesus: "Lakukanlah ini menjadi peringatan akan Aku."
· Lukas 22:19-20 – Roti = tubuh-Nya, anggur = darah perjanjian baru.
Kata kunci dalam 1 Korintus 10:16 adalah koinonia (persekutuan/partisipasi). Ini bukan sekadar mengingat, melainkan mengambil bagian secara nyata dalam tubuh dan darah Kristus.
2. Tiang Ular sebagai Simbol yang Berbeda
Dalam Bilangan 21:4-9, Tuhan memerintahkan Musa membuat ular tembaga di atas tiang. Siapa yang memandangnya, ia hidup. Yesus merujuk ini dalam Yohanes 3:14-15 sebagai lambang penyaliban-Nya.
Perbedaan mendasar dengan Perjamuan Kudus:
Aspek Tiang Ular Perjamuan Kudus
Sifat Simbol satu kali Perintah berulang
Partisipasi Cukup percaya (memandang) Makan, minum, bersekutu
Status kini Digenapi dalam Kristus Tetap berlaku sampai Ia datang
Tiang Ular hanya simbol yang menunjuk pada penyaliban satu kali. Perjamuan Kudus bukan sekadar simbol, melainkan sarana persekutuan nyata dengan Kristus yang bangkit.
3. Kritik terhadap Pandangan Zwingli (Simbol Murni)
Ulrich Zwingli berpendapat Perjamuan Kudus hanyalah simbol peringatan — roti dan anggur tidak mengandung kehadiran Kristus secara khusus.
Namun, pandangan ini memiliki kelemahan serius:
1. Mengabaikan 1 Korintus 10:16 – Paulus tidak berkata "simbol tubuh" tetapi "persekutuan dengan tubuh."
2. Mengabaikan 1 Korintus 11:27 – Jika hanya simbol, bagaimana seseorang bisa "bersalah terhadap tubuh dan darah Tuhan"?
3. Konsekuensi logis – Jika koinonia hanya simbolik, maka gereja dan Perjamuan tidak diperlukan. Cukup berdoa di rumah.
4. Argumen Kunci: Jika Hanya Simbol, Mengapa Perlu Gereja dan Perjamuan?
Anda mengajukan argumen yang sangat kuat:
"Jika koinonia bisa diartikan simbolik, maka kita tidak perlu ke gereja dan mengadakan perjamuan. Kita cukup berdoa dari rumah sebagai bagian dari tubuh Kristus."
Argumen ini membongkar kelemahan pandangan simbol murni. Karena:
· Doa di rumah tidak menggantikan tindakan fisik makan roti dan minum anggur bersama.
· Perintah "lakukanlah ini" bersifat komunal, bukan individual.
· 1 Korintus 10:17 menekankan: "Karena kita semua mengambil bagian dari satu roti" — persekutuan jasmani dengan sesama anggota tubuh Kristus.
Jika Perjamuan hanya simbol, maka tidak ada alasan mengapa gereja harus mengadakannya secara fisik. Cukup ingat Yesus dalam hati. Namun Alkitab justru memerintahkan tindakan nyata, berulang, dan bersama.
5. Kehadiran Rohani yang Nyata (Bukan Zwingli, Bukan Transubstansiasi)
Lalu bagaimana kita memahami "kehadiran" Kristus dalam Perjamuan?
· Bukan transubstansiasi (roti berubah zat menjadi tubuh fisik Yesus) — karena tubuh Kristus ada di surga (Kisah 3:21).
· Bukan sekadar simbol (Zwingli) — karena itu mengabaikan realitas persekutuan.
· Yang benar: Kehadiran rohani yang sungguh nyata – oleh kuasa Roh Kudus, Kristus yang bangkit hadir secara rohani namun nyata dalam Perjamuan, sehingga orang percaya benar-benar mengambil bagian dalam tubuh dan darah-Nya yang dimuliakan.
Analoginya bukan bendera yang sekadar menunjuk negara. Analogi yang lebih tepat: api menyentuh bara — secara substansi berbeda, tetapi partisipasi dalam panas dan api itu nyata.
6. Kesimpulan: Konklusi Akhir Diskusi
Setelah menelusuri Alkitab, membandingkan dengan Tiang Ular, mengkritisi Zwingli, dan mengikuti argumen logis Anda, konklusi akhir dari diskusi ini adalah:
1. Perjamuan Kudus bukan sekadar simbol. Ia adalah persekutuan (koinonia) yang nyata dengan tubuh dan darah Kristus (1 Kor 10:16).
2. Jika hanya simbol, maka:
· Gereja tidak perlu mengadakan Perjamuan.
· Doa di rumah sudah cukup.
· 1 Korintus 11:27 (bersalah terhadap tubuh & darah Tuhan) menjadi tidak masuk akal.
3. Karena Perjamuan adalah persekutuan nyata, maka:
· Gereja dan Perjamuan tetap diperlukan sebagai tindakan iman yang jasmani dan komunal.
· Doa di rumah tidak bisa menggantikan Perjamuan Kudus, karena Perjamuan adalah perintah Kristus yang spesifik dan melibatkan tubuh secara nyata.
4. Kehadiran Kristus dalam Perjamuan adalah kehadiran rohani yang sungguh nyata — bukan fisik (seperti paham Katolik), bukan kosong (seperti Zwingli), tetapi misteri iman di mana oleh Roh Kudus, orang percaya benar-benar bersekutu dengan Kristus yang bangkit.
5. Penyaliban terjadi satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:10). Perjamuan Kudus tidak mengulang penyaliban, tetapi secara rohani menghadirkan manfaat dan realitas tubuh & darah Kristus yang dikorbankan bagi mereka yang menerima dalam iman.
---
Penutup
Perjamuan Kudus adalah tanda dan sarana di mana Kristus yang bangkit memberi diri-Nya kepada umat-Nya. Ia bukan sekadar kenangan, melainkan persekutuan nyata yang tidak bisa digantikan oleh doa pribadi di rumah. Karena itu, gereja terus mengadakan Perjamuan — bukan karena ritual mati, tetapi karena Kristus sungguh hadir untuk memberi hidup kepada umat-Nya.
"Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." (1 Korintus 11:26)
Marilah kita memaknai Perjamuan Kudus bukan sebagai simbol kosong, tetapi sebagai perjumpaan nyata dengan Tuhan yang bangkit.
Komentar
Posting Komentar