Perjamuan Kudus dan Bait Allah

Perjamuan Kudus dan Bait Allah: Jembatan dari Inkarnasi Tanpa Filsafat Yunani

Memperluas Kerangka "Firman Menjadi Daging" ke dalam Sakramen dan Kebangkitan

---

Pendahuluan

Jika pemahaman kita tentang Yohanes 1:14 direkonstruksi tanpa filsafat Yunani — yaitu bahwa Firman yang kekal mengambil/memiliki daging yang memperoleh asal usul — maka terbuka kemungkinan untuk memahami perjamuan kudus dan pernyataan Yesus tentang Bait Allah (Yohanes 2:19-21) dengan cara yang lebih koheren dan alkitabiah.

Pertanyaan yang akan kita jawab:

1. Mengapa Yesus menggunakan bahasa "makan daging-Ku dan minum darah-Ku" (Yohanes 6) yang kontroversial?
2. Mengapa Yesus menyamakan tubuh-Nya dengan Bait Allah yang dirobohkan dan didirikan kembali dalam tiga hari?
3. Apakah ada paralel antara egeneto sarx (inkarnasi) dan touto mou estin to sōma (perjamuan)?

Kita akan melihat bahwa pola "ciptaan baru" yang ditemukan dalam inkarnasi — yaitu Yang Kekal hadir dalam realitas yang memperoleh asal usul — juga berlaku dalam perjamuan dan kebangkitan.

---

Bagian 1: Masalah Bahasa Perjamuan dalam Yohanes 6

1.1 Kontroversi "Makan Daging dan Minum Darah"

Yohanes 6:51-56 merekam perkataan Yesus yang paling sulit:

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jika seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan itu adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (ay. 51)

"Jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu." (ay. 53)

Reaksi pendengar: "Perkataan ini keras; siapakah yang sanggup mendengarkannya?" (ay. 60). Banyak murid-Nya mundur dan tidak lagi mengikut Dia (ay. 66).

Mengapa reaksi ini begitu keras? Karena dalam hukum Taurat (Imamat 17:10-14), meminum darah adalah pelanggaran berat. Yesus seolah-olah melanggar hukum yang paling mendasar. Namun Yesus tidak menarik kembali perkataan-Nya.

1.2 Interpretasi Tradisional vs. Interpretasi "Tanpa Filsafat Yunani"

Interpretasi tradisional (dipengaruhi filsafat Yunani) cenderung:

· Transubstansiasi (Katolik): Hakikat roti dan anggur berubah menjadi hakikat tubuh dan darah Kristus — menggunakan kategori ousia dan accidens Aristoteles.
· Konsubstansiasi (Lutheran): Tubuh dan darah Kristus hadir "di dalam, bersama, dan di bawah" roti dan anggur.
· Simbolik (Zwingli): "Makan" dan "minum" hanya metafora untuk iman.

Masing-masing memiliki kelemahan:

· Transubstansiasi: Bergantung pada filsafat Yunani (hakikat/aksiden) yang tidak alkitabiah.
· Konsubstansiasi: Juga bergantung pada metafisika kehadiran.
· Simbolik murni: Tidak serius dengan "daging" dan "darah" yang nyata (Yohanes 6:55: "Daging-Ku adalah benar-benar makanan, darah-Ku adalah benar-benar minuman").

1.3 Jembatan dari Inkarnasi Tanpa Filsafat Yunani

Jika kita sudah memahami Yohanes 1:14 sebagai: Firman yang kekal mengambil/memiliki daging yang memperoleh asal usul — maka kita memiliki kerangka untuk memahami Yohanes 6:

Paralel:

· Inkarnasi: Yang kekal → hadir dalam realitas daging yang memperoleh asal usul
· Perjamuan: Tubuh dan darah Kristus yang historis (telah memperoleh asal usul di rahim Maria) → hadir secara nyata dalam roti dan anggur perjamuan

Dengan kata lain: Sama seperti Yang Kekal tidak kehilangan keilahian-Nya ketika Ia hadir dalam daging yang memperoleh asal usul, demikian juga tubuh dan darah Kristus tidak kehilangan realitasnya ketika Ia hadir dalam roti dan anggur perjamuan.

Ini bukan transubstansiasi (karena tidak menggunakan kategori hakikat/aksiden). Ini juga bukan simbolisme murni. Ini adalah realisme sakramental yang berpijak pada logika inkarnasi itu sendiri: Yang Ilahi hadir dalam yang memperoleh asal usul tanpa mencampurkan, tanpa mengubah, tanpa memisahkan.

---

Bagian 2: Bait Allah yang Dirobohkan dan Didirikan dalam Tiga Hari

2.1 Yohanes 2:19-21

Yesus menjawab orang-orang Yahudi yang meminta tanda:

"Robohkan Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." (ay. 19)

Orang Yahudi berkata: "Empat puluh enam tahun Bait Allah ini didirikan, dan Engkau akan mendirikannya dalam tiga hari?" (ay. 20)

Penjelasan Yohanes: "Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." (ay. 21)

2.2 Paralel dengan Inkarnasi

Perhatikan paralelnya dengan Yohanes 1:14:

Inkarnasi (Yoh 1:14) Bait Allah (Yoh 2:19-21)
Ho logos sarx egeneto (Firman menjadi daging) Tou naou tou sōmatos autou (Bait Allah = tubuh-Nya)
Daging = tempat kediaman Allah (eskēnōsen — telah berkemah) Tubuh = Bait Allah (tempat kediaman Allah)
Yang kekal hadir dalam yang memperoleh asal usul Yang Ilahi hadir dalam tubuh yang fana

Kunci: Dalam Perjanjian Lama, Bait Allah adalah tempat hadirnya Shekinah (kemuliaan Allah). Yesus menyatakan bahwa tubuh-Nya sendiri adalah Bait Allah yang baru. Artinya: Sama seperti kemuliaan Allah hadir dalam Bait Allah yang terbuat dari batu (ciptaan yang memperoleh asal usul), demikian juga kemuliaan Firman hadir dalam tubuh yang memperoleh asal usul dari Maria.

2.3 "Robohkan dan Kudirikan" sebagai Gambaran Kematian dan Kebangkitan

Kata "robohkan" (lysate — λύσατε) berarti "hancurkan/bubarkan." Yesus tidak mengatakan "Aku akan dirobohkan" secara pasif, tetapi Ia memberikan izin: "Robohkan Bait Allah ini." Ini menunjukkan kematian yang sukarela.

"Dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" (egerō — ἐγερῶ) adalah kata kerja yang sama yang digunakan untuk kebangkitan.

Hubungan dengan inkarnasi:

· Inkarnasi: Yang kekal menjadi daging (memasuki realitas yang fana)
· Kebangkitan: Daging yang fana dimuliakan menjadi tidak fana (1 Korintus 15:42-44)

Dengan kata lain: Sama seperti Firman mengambil daging yang memperoleh asal usul, Ia juga membangkitkan daging itu dari kematian. Ini bukan berarti Firman mati (Firman sebagai Pribadi ilahi tidak mati), tetapi daging yang diambil-Nya mengalami kematian dan kebangkitan.

---

Bagian 3: Koneksi antara Perjamuan dan Bait Allah

3.1 Makanan dari Bait Allah

Dalam Perjanjian Lama, ada konsep roti sajian (Levitikus 24:5-9) yang diletakkan di dalam Bait Allah, dan hanya imam yang boleh memakannya. Juga ada korban perdamaian di mana orang Israel makan daging korban di hadapan Tuhan (Imamat 7:11-21).

Yesus mengambil simbol-simbol ini dan mengaplikasikannya pada diri-Nya:

· Roti sajian → roti perjamuan (tubuh-Ku)
· Korban perdamaian → darah perjanjian

Paralel dengan inkarnasi: Sama seperti Bait Allah adalah tempat kehadiran Allah, dan makanan korban adalah sarana persekutuan dengan Allah, demikian juga tubuh Yesus adalah Bait Allah yang baru, dan makan tubuh-Nya serta minum darah-Nya adalah persekutuan nyata dengan Allah yang hadir dalam daging.

3.2 "Egeneto" dalam Perjamuan (1 Korintus 11:23-25)

Paulus menggunakan kata egeneto (menjadi/memperoleh asal usul) dalam konteks perjamuan:

"Tuhan Yesus, pada malam ketika Ia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur, Ia memecah-mecahkannya dan berkata: 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.'" (1 Korintus 11:23-24)

Perhatikan: Roti tidak menjadi tubuh secara fisik (transubstansiasi). Roti tetap roti. Namun Yesus berkata: "Touto mou estin to sōma" — "Ini adalah tubuh-Ku." Kata estin (adalah) di sini adalah kata kerja yang sama dengan ēn di Yohanes 1:1 — menunjukkan kehadiran nyata, bukan perubahan hakikat.

Koneksi dengan Yohanes 1:14:

· Yohanes 1:14: Ho logos sarx egeneto — Firman menjadi daging (daging memperoleh asal usul, tetapi Firman tetap kekal)
· Perjamuan: Touto mou estin to sōma — Ini adalah tubuh-Ku (roti tetap roti, tetapi secara sakramental adalah tubuh Kristus)

Dalam kedua kasus, kata "adalah/menjadi" tidak berarti perubahan hakikat dalam pengertian Yunani, tetapi kehadiran realitas Ilahi dalam yang material/fana.

---

Bagian 4: Teologi Perjamuan yang Koheren tanpa Filsafat Yunani

4.1 Kerangka yang Diusulkan

Dari seluruh bukti di atas, kita dapat menyusun kerangka teologi perjamuan yang tidak bergantung pada filsafat Yunani tetapi berpijak pada logika inkarnasi Yohanes:

Konsep Inkarnasi Perjamuan
Yang Ilahi Firman (kekal) Tubuh dan darah Kristus yang dimuliakan
Yang material/fana Daging (memperoleh asal usul) Roti dan anggur (ciptaan)
Relasi Firman "menjadi" daging → hadir secara nyata Roti "adalah" tubuh → hadir secara sakramental
Bahasa egeneto (menjadi) estin (adalah)
Bukan berarti Perubahan hakikat Firman Perubahan hakikat roti
Berarti Yang kekal hadir dalam yang fana Yang dimuliakan hadir dalam yang sederhana

4.2 Mengapa Ini Bukan Simbolisme Murni

Simbolisme murni (Zwingli) mengatakan: "Ini melambangkan tubuh-Ku" — artinya, tidak ada kehadiran nyata. Ini bermasalah karena:

1. Yohanes 6:55: "Daging-Ku adalah benar-benar makanan, darah-Ku adalah benar-benar minuman" — kata alēthōs (benar-benar) menekankan realitas, bukan sekadar lambang.
2. Jika hanya lambang, mengapa banyak murid mundur? Mereka sudah terbiasa dengan lambang dalam Perjanjian Lama. Yang membuat mereka mundur adalah tuntutan untuk benar-benar makan daging dan minum darah.

4.3 Mengapa Ini Bukan Transubstansiasi

Transubstansiasi (Katolik) mengatakan hakikat roti berubah menjadi hakikat tubuh Kristus, hanya aksidennya yang tetap. Ini bermasalah karena:

1. Bergantung pada kategori filsafat Yunani (ousia/accidens) yang tidak alkitabiah.
2. Yesus sendiri mengatakan "lakukanlah ini menjadi peringatan akan Aku" — peringatan mengasumsikan roti dan anggur tetap roti dan anggur (tidak berubah hakikat), tetapi memiliki makna baru.
3. Paulus masih menyebut "roti" setelah konsekrasi (1 Korintus 11:27-28).

4.4 Posisi yang Diusulkan: Realisme Sakramental Berdasarkan Inkarnasi

Posisi kami: Roti dan anggur secara sakramental adalah tubuh dan darah Kristus — bukan dalam arti perubahan hakikat (filsafat Yunani), tetapi dalam arti yang sama dengan inkarnasi: Yang Ilahi hadir dalam yang fana tanpa mencampurkan atau mengubah hakikat.

Sama seperti:

· Daging Yesus benar-benar adalah daging manusia yang memperoleh asal usul, namun juga benar-benar adalah tempat kediaman Firman yang kekal.
· Roti perjamuan benar-benar adalah roti ciptaan, namun juga benar-benar adalah tubuh Kristus yang hadir secara sakramental.

Ini adalah misteri yang tidak bisa direduksi ke dalam kategori filsafat mana pun — dan justru itu yang alkitabiah.

---

Bagian 5: Implikasi bagi Pemahaman Kebangkitan

5.1 Tubuh Kebangkitan: Antara "Memperoleh Asal Usul" dan "Kekal"

Jika kita memahami inkarnasi sebagai Firman mengambil daging yang memperoleh asal usul, maka kebangkitan adalah transisi daging itu dari "memperoleh asal usul" ke "tidak dapat binasa" (1 Korintus 15:42-44).

Perhatikan paralelnya:

 Daging (inkarnasi) Tubuh kebangkitan
Asal usul Memperoleh asal usul di rahim Maria Diubahkan/dibangkitkan dari kematian
Sifat Fana, dapat mati Tidak fana, tidak dapat mati
Relasi dengan Firman Firman hadir di dalamnya Firman tetap hadir di dalamnya

Tubuh kebangkitan bukan "memperoleh asal usul" lagi dalam arti yang sama — ia sudah ada sebelumnya (tubuh Yesus yang historis), tetapi diubahkan menjadi bentuk yang baru. Ini adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17) tetapi dengan kontinuitas dengan yang lama.

5.2 Perjamuan sebagai Partisipasi dalam Tubuh Kebangkitan

Jika perjamuan adalah partisipasi dalam tubuh dan darah Kristus (1 Korintus 10:16), dan Kristus sekarang hidup dalam tubuh kebangkitan yang dimuliakan, maka perjamuan adalah partisipasi dalam realitas kebangkitan — bukan hanya mengenang kematian, tetapi menikmati kehadiran Kristus yang hidup.

Ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru berbicara tentang perjamuan sebagai "makanan rohani" (1 Korintus 10:3-4) — bukan karena roti berubah hakikat, tetapi karena Roh Kudus menjadikan roti dan anggur sebagai sarana persekutuan dengan Kristus yang bangkit.

---

Kesimpulan: Sebuah Teologi Sakramental yang Koheren

Kembali kepada Yohanes 1:14 tanpa filsafat Yunani membuka jalan untuk memahami:

1. Inkarnasi → Firman kekal hadir dalam daging yang memperoleh asal usul
2. Bait Allah → Tubuh Yesus adalah Bait Allah yang baru, tempat Allah hadir
3. Perjamuan → Roti dan anggur secara sakramental adalah tubuh dan darah Kristus
4. Kebangkitan → Daging yang memperoleh asal usul diubahkan menjadi tidak fana

Kesemuanya diikat oleh satu logika yang sama: Yang Ilahi hadir dalam yang material/fana tanpa mencampurkan, tanpa mengubah, tanpa memisahkan — sebuah logika yang tidak memerlukan kategori filsafat Yunani tentang hakikat dan aksiden, tetapi cukup berpijak pada kesetiaan Allah pada janji-Nya: "Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku" (Imamat 26:12) — sebuah janji yang digenapi secara radikal ketika Ehyeh ("Aku Akan Menjadi") benar-benar menjadi daging, menjadi Bait Allah, menjadi roti hidup, dan bangkit sebagai yang pertama dari antara orang mati.

---

Penutup

Diskusi yang dimulai dari pertanyaan sederhana tentang arti egeneto di Yohanes 1:14 akhirnya membawa kita pada rekonstruksi teologi inkarnasi, sakramen, dan kebangkitan yang lebih alkitabiah. Kita tidak perlu membuang rumusan Kalsedon — rumusan itu berguna secara historis. Tetapi kita perlu kembali kepada teks dan membiarkan Yohanes, Paulus, dan penulis Perjanjian Baru lainnya berbicara dengan kategori mereka sendiri, bukan dengan kategori filsafat Yunani.

Hasilnya bukanlah penyederhanaan misteri, tetapi penghormatan terhadap misteri itu sendiri — misteri bahwa Ehyeh yang menjanjikan kehadiran-Nya kepada Musa, benar-benar hadir dalam daging, dalam roti, dalam anggur, dan dalam kebangkitan. Soli Deo gloria.

---

Artikel ini merupakan kelanjutan dari "Firman Menjadi Daging (Yohanes 1:14) Tanpa Filsafat Yunani" dan ditulis untuk membangun pemahaman sakramental yang alkitabiah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Metodologis Atas Trinitas Klasik

Substansi dan Trinitas tidak mungkin disatukan.

Sebagai Saksi Allah