Pribadi Trinitas Sebagai Substansi
Pernyataan bahwa "pribadi Trinitas sebagai substansi adalah sebuah kesalahan" perlu dilihat secara teliti. Dalam teologi Trinitas Kristen (khususnya tradisi Nicea-Konstantinopel), pernyataan yang tepat bukanlah "Pribadi adalah substansi", melainkan:
1. Satu substansi (ousia), tiga pribadi (hypostasis).
Substansi di sini merujuk pada hakikat ilahi yang esa, bukan pada ketiga Pribadi secara terpisah. Bapa, Putra, dan Roh Kudus bukan tiga substansi, melainkan satu substansi yang sama.
2. Pribadi bukan substansi, melainkan relasi atau mode keberbedaan internal dalam satu substansi.
Dalam rumusan klasik (Boethius, Aquinas), pribadi dalam Allah adalah "relasi yang subsisten" (relatio subsistens). Artinya, perbedaan antar-Pribadi bukan pada tingkat substansi, tetapi pada asal-usul relasional (Bapa memperanakkan, Putra diperanakkan, Roh dikeluarkan).
3. Jika seseorang menyebut "Pribadi sebagai substansi" (artinya tiga substansi), itu memang keliru dan disebut triteisme (tiga tuhan), bukan Trinitas.
Itu sebabnya dogma Trinitas dengan tegas menolak "tiga substansi".
Jadi, kesimpulan Anda benar jika yang dimaksud adalah:
Menganggap setiap Pribadi sebagai substansi yang terpisah (seperti tiga esensi berbeda) adalah kesalahan. Namun jika yang dimaksud adalah: "Pribadi dalam satu substansi", maka itu tepat secara Trinitas.
Dengan kata lain:
· Substansi dalam Trinitas = satu (hakikat ilahi).
· Pribadi = bukan substansi, melainkan cara keberadaan (tropos hyparxeos) di dalam satu substansi.
Kesalahan umum adalah menyamakan "pribadi" dengan "substansi individual" seperti pada makhluk ciptaan. Dalam Allah, pribadi tidak memecah substansi.
Komentar
Posting Komentar