Kristen Paham Makna Cinta?

Apakah Orang Kristen Paham Makna Kata "Mengenal" Di Alkitab? 

Dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani yang digunakan untuk "mengenal" adalah יָדַע (yada). Kata ini memang bukan sekadar pengetahuan intelektual, melainkan pengetahuan yang bersifat relasional, intim, dan eksperiensial—sama seperti suami "mengenal" istrinya dalam keintiman pernikahan (Kejadian 4:1, di mana yada diterjemahkan "bersetubuh").

Hubungannya dengan Matius 7:23:

"Dan pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Ketika Yesus berkata, "Aku tidak pernah mengenal kamu," Ia menggunakan kata Yunani ginosko (yang semakna dengan yada). Maknanya:

1. Bukan karena Ia tidak tahu siapa mereka (Yesus Mahatahu), tetapi karena tidak ada relasi perjanjian yang intim di antara mereka.
2. Mereka mungkin bernubuat dan mengusir setan dalam nama-Nya (ayat 22), tetapi mereka tidak pernah melakukan kehendak Bapa (ayat 21)—artinya, tidak ada ketaatan yang lahir dari kasih, seperti dalam hubungan pernikahan yang setia.

Jadi, ayat ini mengajarkan bahwa: 
Keselamatan bukan tentang "pekerjaan rohani" yang spektakuler, melainkan tentang hidup dalam persekutuan yang intim dengan Kristus, seperti mempelai wanita dengan Mempelai Pria-nya. Jika tidak ada yada itu—ketaatan, kerinduan, dan keintiman—maka semua pelayanan hanya "kebisingan" di mata-Nya.

---

Ayat Dengan Kata "Mengenal" Dalam Perjanjian Baru

· Matius 25:12 (perumpamaan gadis bijak dan bodoh): "Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu."
· Lukas 13:25 (tentang pintu yang sesak): "Dan apabila tuan rumah telah bangkit dan menutup pintu, kamu berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Maka ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang."

---

Pesan utamanya: Yesus menekankan bahwa hubungan pribadi dengan-Nya lebih penting daripada sekadar perbuatan lahiriah atau gelar agama. Ia mengenal mereka yang sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa (Matius 7:21).

---

Sebuah Peringatan

Banyak orang Kristen takut akan ayat-ayat "ancaman" ini, tapi sebenarnya ini hanyalah sebuah pertanyaan; Apakah kau sungguh mengasihi AKU?  

Menghubungkan "yada" dengan Yohanes 21. Ini sambungan yang sangat indah dan tepat secara teologis.

Ayat yang di maksud adalah Yohanes 21:15-17, saat Yesus bertanya kepada Petrus sebanyak 3 kali:

"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?" (Yohanes 21:15)

---

Di sinilah keindahan bahasa Yunaninya (karena PB ditulis dalam Yunani):

Dalam teks asli, Yesus menggunakan dua kata berbeda untuk "kasih" yang menunjukkan tingkatan dan makna yang dalam, sangat relevan dengan konsep yada:

Ayat Kata Yunani untuk "Kasih" Makna
Pertama & Kedua (ay. 15-16) Agapao (Agape) Kasih yang ilahi, tanpa syarat, total, kasih yang berasal dari kehendak dan pengorbanan.
Ketiga (ay. 17) Phileo Kasih yang persahabatan, afeksi, kasih sayang yang hangat dan emosional.

Yang menarik: Ketika Yesus bertanya ke-3 kalinya, Ia turun ke level phileo—dan Petrus pun bersedih (ay. 17), karena Petrus sadar: Yesus menjangkau dia di titik kelemahannya. Petrus yang pernah menyangkal 3 kali, kini dipulihkan melalui 3 pertanyaan.

---

Hubungannya dengan yada (PL) dan pernikahan:

· Yesus tidak bertanya "Apakah engkau tahu tentang Aku?" (pengetahuan intelektual), tetapi "Apakah engkau mengasihi Aku?"—karena kasih inilah inti dari yada: keintiman, kesetiaan, dan ketaatan seperti dalam pernikahan.
· Jawaban Petrus, "Tuhan, Engkau tahu segalanya" (ay. 17), menggunakan kata oida (tahu secara fakta) dan ginosko (tahu secara relasional)—Petrus akhirnya mengakui bahwa Yesus mengenalnya lebih dalam daripada Petrus mengenal diri sendiri.

Pesan akhirnya: Pemulihan Petrus terjadi bukan karena ia hebat, tetapi karena ia dicintai lebih dulu. Dan dari kasih itu, ia dipercaya untuk menggembalakan domba-domba Yesus—pelayanan yang lahir dari keintiman (yada), bukan dari ambisi.

---

Dua Kevel Pemahaman 

Penghiburan dan peringatan. 
Mari bedah bersama :

---

1. Mengapa kita tidak perlu "takut" secara histeris?

Karena ayat "Aku tidak mengenal kamu" itu bukan untuk umat perjanjian yang sedang bergumul, tetapi untuk orang-orang yang mengaku tetapi tidak pernah memiliki relasi intim (yada). Ciri mereka:

· Mereka mengandalkan prestasi ("bukankah kami bernubuat...?"), bukan mengandalkan Kristus.
· Mereka tidak melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21) — yaitu hidup dalam ketaatan yang lahir dari kasih, bukan dari kewajiban mati-matian.

Bagi orang percaya sejati, janji-Nya justru sebaliknya: "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku" (Yohanes 10:14). Hubungan yada itu sudah dimulai oleh Allah lebih dulu (1 Yoh. 4:19).

---

2. Mengapa ayat ini tetap menjadi "peringatan" yang sehat?

Justru karena ini adalah ungkapan kedalaman kasih, ayat ini justru menjadi pengingat (rem) rohani agar kita tidak terlena. Sama seperti:

· Seorang suami yang sungguh mencintai istrinya tidak akan takut diusir, tetapi peringatan "jangan berselingkuh" justru menguatkan komitmennya.

· Petrus setelah bertemu yada di Yohanes 21, tidak menjadi sombong, tetapi justru hidup dalam kerendahan sampai mati disalib terbalik.

Pesan Rohani: 
Ketakutan yang sehat bukanlah takut dihukum (yang menghilangkan damai), tetapi takut kehilangan keintiman dengan Dia. Inilah yang disebut "takut akan Tuhan" dalam PL — bukan gentar seperti budak, tetapi respek kudus seperti mempelai yang tidak mau menyakiti hati Mempelai Pria-nya.

---

Kesimpulan :

Ayat ini mengingatkan kita untuk terus bertahan dalam anugerah kasih Tuhan selama di dunia.

Bahkan "bertahan" pun adalah anugerah — karena kita bertahan bukan karena kuat, tetapi karena Dia yang memegang kita (Yohanes 10:28-29). Jadi, pergumulan kita adalah terus kembali ke yada setiap hari, seperti Petrus yang terus kembali ke Yesus meski pernah jatuh.

---

Sebuah Peringatan Bagi Gereja

Kita akan menyentuh luka paling dalam dalam kekristenan modern. Ini bukan sekadar masalah doktrin, tetapi krisis identitas—gereja telah kehilangan narasi sentral bahwa iman adalah pernikahan rohani, bukan sekadar keanggotaan atau moralitas.

Mari kita bedah mengapa ini terjadi dan apa dampaknya:

---

1. Mengapa Gereja Jarang Mengajarkan "Pernikahan Rohani"?

Penyebab - Penjelasan

Pengajaran yang Terpisah 
- Perjanjian Lama (yada sebagai pernikahan) dan Perjanjian Baru (mempelai Kristus) sering diajarkan secara terpisah, padahal satu kesatuan (Ef. 5:31-32).

Liturgi yang Kering 
- Iman direduksi menjadi khotbah + ibadah + pelayanan, tanpa ruang untuk keintiman pribadi dengan Kristus. Seperti pernikahan tanpa malam pertama—formal, tetapi hampa.

Takut pada "Mistisisme" 
- Gereja sering curiga pada bahasa cinta dan kerinduan rohani, menganggapnya berlebihan. Padahal kitab Kidung Agung adalah kitab yang paling gamblang tentang hal ini.

Budaya "Pelayanan" 
- Kita mengajarkan orang untuk "melayani Tuhan" tetapi jarang mengajarkan untuk "merindu Tuhan"—seperti mempelai yang merindukan mempelai pria.

---

2. Dampak Kesalahpahaman Ini 
(Mengapa Ini Serius)

· Orang Kristen menjadi "pelaku" bukan "pecinta"—mereka melakukan banyak hal atas nama Tuhan, tetapi tidak mengenal Tuhan (Mat. 7:23 terwujud!).

· Rohani menjadi kewajiban, bukan kerinduan. Doa menjadi daftar permintaan, bukan percakapan intim.

· Ketaatan menjadi beban, bukan ekspresi kasih. Padahal Yesus berkata: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yoh. 14:15)—ini bahasa pernikahan, bukan bahasa hukum.

· Gagal memahami penderitaan—karena pernikahan rohani memiliki "malam-malam kelam" (dark night of the soul) seperti yang dialami Ayub atau Santa Teresa, tetapi gereja tidak tahu cara menemani.

---

3. Kitab yang Paling Jelas Tentang Ini: 
Kidung Agung

Perhatikan: Kidung Agung tidak pernah menyebut "Allah" secara eksplisit, tetapi para rabi Yahudi dan bapa gereja (seperti Origenes) memahaminya sebagai alegori pernikahan antara Allah dan umat-Nya. Di dalamnya ada:

· Kerinduan yang membara: "Di atas ranjangku pada malam hari aku mencari kekasihku" (Kid. 3:1)
· Pengakuan: "Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia" (Kid. 2:16) — inilah esensi yada.
· Bahkan ada "malam yang gelap" di mana mempelai wanita mencari tetapi tidak menemukan (Kid. 3:1-3).

---

4. Peringatan untuk Anda (dan Gereja) Hari Ini

Jika ayat "Aku tidak mengenal kamu" adalah peringatan, maka peringatan terbesar bagi gereja masa kini adalah:

Kita bisa memiliki teologi yang benar, liturgi yang indah, gedung yang megah, dan penginjilan yang massif—tetapi jika kita tidak mengajarkan umat untuk jatuh cinta pada Kristus, kita sedang mendidik generasi "pembuat kejahatan" yang tidak dikenal-Nya.

---

Refleksi Penutup:

Pernikahan rohani bukanlah salah satu metafora dari iman—itu adalah metafora utama yang menjadi kunci untuk memahami semua metafora lain (gembala-domba, pokok anggur-ranting, kepala-tubuh).

· Pertanyaan untuk gereja: Apakah kita mengajarkan orang untuk menikah dengan Kristus, atau hanya menjadi karyawan yang baik?
· Pertanyaan untuk Anda: Apakah Anda hari ini lebih merindukan "pekerjaan Tuhan" atau Tuhan sendiri?

Seperti mempelai wanita yang merindukan mempelai prianya di tengah malam, marilah kita kembali ke yada—karena hanya di sanalah ancaman "Aku tidak mengenal kamu" berubah menjadi bisikan: "Aku tahu engkau, engkau kepunyaan-Ku." 💒🔥

Amin

---

Tuhan Yesus Mencintai dan Memberkati Engkau 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Metodologis Atas Trinitas Klasik

Substansi dan Trinitas tidak mungkin disatukan.

Sebagai Saksi Allah