Yesus Utusan Bapa
Memahami Yesus sebagai "Utusan Bapa" tidak bisa kita lepaskan dari pemahaman akan Keluaran 3:14b ("Aku adalah Aku"), Keluaran 23:20-21 - tentang "Utusan (Malaikat THWH)", dan klaim Yesus akan "Ego Eimi"
---
Aku mengutus Aku
Keluaran 3:14 adalah pernyataan eksistensi diri Allah yang mutlak dan tidak bergantung pada siapa pun. Malaikat dalam Keluaran 23 tidak pernah menyatakan diri sebagai "Aku adalah Aku" secara terpisah dari Bapa. Sebaliknya, ia berkata, "Nama-Ku ada di dalam dia" (ayat 21), yang berarti ia datang dalam nama dan atas otoritas YHWH.
Ini justru paralel dengan Yohanes 5:43, di mana Yesus berkata, "Aku datang dalam nama Bapa-Ku." Yesus adalah Allah, tetapi Ia diutus oleh Bapa. Pola yang sama persis muncul di Keluaran 23.
Tetapi kita perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang teologi monoteisme Ibrani yang tidak selalu identik dengan "satu secara matematis" (absolut tunggal), melainkan "Echad" (אֶחָד) yang bersifat "satu majemuk" atau "satu yang bersatu padu."
Izinkan saya mengembangkan dan membenarkan klaim mengenai Keluaran 3:14b ("Aku adalah Aku"), serta menunjukkan bahwa dalam konteks Yudaisme dan kritik tekstual, klaim tentang Keluaran 3:14b sebagai dasar sah untuk memahami Malaikat TUHAN sebagai YHWH sendiri justru semakin kuat, bukan lemah.
---
1. Echad (אֶחָד) Bukan "Absolut Tunggal" (Yachid)
Dalam teologi Ibrani, ada dua kata Ibrani untuk "satu":
· Yachid (יָחִיד) = "satu-satunya" / "tunggal secara absolut" (misal: anak tunggal dalam Kejadian 22:2).
· Echad (אֶחָד) = "satu yang terdiri dari kesatuan majemuk" (misal: "satu daging" dalam Kejadian 2:24, "satu bangsa" dalam Kejadian 34:16, "satu tandan" dalam Bilangan 13:23).
Shemah Yisrael (Ulangan 6:4): "Shemah Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Echad."
Bukan "Adonai Yachid" (tunggal absolut), melainkan "Adonai Echad" — yaitu satu Allah yang memiliki kesatuan majemuk di dalam diri-Nya. Inilah yang oleh para teolog Yahudi mistis (seperti dalam Zohar dan Kabbalah) disebut sebagai "sod ha'echad" (rahasia kesatuan), di mana Allah itu satu tetapi memiliki atribut-atribut atau sefirot yang berinteraksi.
Dalam konteks ini, klaim bahwa YHWH dapat "mengutus" YHWH tanpa menjadi politeisme adalah sah secara gramatikal dan konseptual, karena Echad memungkinkan adanya pembedaan pribadi di dalam keesaan tanpa memecah keesaan itu.
---
2. Keluaran 3:14b — "Ehyeh Asher Ehyeh" sebagai Dasar Ontologis
Dalam konteks Echad, klaim tentang Keluaran 3:14b adalah sah. kita akan perkuat dengan analisis berikut:
Ayat 14: "Ehyeh asher ehyeh" (אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה) — "Aku adalah Aku" atau "Aku akan menjadi apa yang Aku kehendaki."
Dalam tafsir Yahudi klasik (Rashi, Ibn Ezra, Ramban), frasa ini dipahami sebagai pernyataan eksistensi diri yang mandiri dan kekal, tetapi juga fleksibel: Allah adalah siapa pun yang Dia pilih untuk dinyatakan dalam sejarah. Ia tidak terikat pada satu bentuk.
Poin penting :
Jika Allah adalah "Ehyeh" (Aku adalah / Aku akan menjadi), maka Dia bebas untuk menyatakan diri-Nya dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki—termasuk sebagai Malaikat TUHAN (Mal'akh YHWH) yang berbicara sebagai YHWH, bertindak sebagai YHWH, dan menyandang nama YHWH, tanpa kehilangan identitas-Nya sebagai YHWH.
Dengan kata lain:
Keluaran 3:14b memberi Allah otoritas ontologis untuk menjadi "utusan" sekaligus "Pengutus" di dalam diri-Nya sendiri, karena "Ehyeh" berarti Dia tidak terbatas oleh kategori "satu atau banyak" dalam pengertian manusia.
---
3. "Mal'akh YHWH" (מַלְאַךְ יְהוָה) dalam Terang Echad dan Ehyeh
Dalam teks Ibrani, Mal'akh YHWH sering kali:
· Berbicara sebagai YHWH (Kejadian 16:10: "Aku akan membuat keturunanmu sangat banyak").
· Dipanggil sebagai YHWH oleh manusia (Kejadian 16:13: Hagar memanggilnya "El-Roi" — Allah yang melihat).
· Namun, tetap dibedakan dari YHWH yang di Surga (misal: dalam Zakharia 1:12, Malaikat TUHAN berbicara kepada TUHAN semesta alam).
Bagaimana Yahudi pra-Kristen memahami ini?
Bukan sebagai "dua dewa," melainkan sebagai manifestasi dari atribut Allah (misal: Shekhinah — kehadiran ilahi, atau Memra — Firman Allah dalam Targum Onkelos). Targum (terjemahan Aram) sering mengganti "Malaikat TUHAN" dengan "Memra d'YHWH" (Firman TUHAN), yang adalah YHWH sendiri yang dinyatakan dalam bentuk yang dapat dilihat dan didengar.
Jadi, dalam kerangka Echad, Malaikat TUHAN adalah:
· Satu hakikat dengan YHWH (karena nama YHWH ada di dalam Dia).
· Bukan pribadi yang terpisah secara ontologis (bukan dewa kedua).
· Penyataan diri dari YHWH yang "Ehyeh" (Aku akan menjadi apa pun yang Aku kehendaki) untuk berinteraksi dengan ciptaan.
---
4. Mengapa Klaim ini Sah dan Tidak Bertentangan dengan Monoteisme
Klaim bahwa "Allah mengutus Allah" berdasarkan Keluaran 3:14b adalah sah jika kita memahami:
Konsep Penjelasan
Echad Allah itu satu secara majemuk, bukan tunggal absolut. Ada relasi internal di dalam keesaan-Nya.
Ehyeh Allah bebas menyatakan diri dalam berbagai kehadiran (termasuk sebagai utusan) tanpa berhenti menjadi Allah.
Mal'akh YHWH Bukan ciptaan, karena ia memiliki atribut YHWH (mengampuni dosa, menyandang nama YHWH), tetapi ia dibedakan secara fungsional dari YHWH di Surga (sebagai Yang Diutus).
Shaliach (utusan) Dalam hukum Yahudi, seorang shaliach (utusan) dianggap sebagai orang yang mengutusnya ("shelucho shel adam kemoto" — utusan dianggap seperti pengutus itu sendiri). Jadi, jika YHWH mengutus "utusan" yang adalah YHWH sendiri, itu sah dalam kerangka halakhah dan teologi.
---
5. Kesimpulan: Klaim yang Sah dan Justru Kunci Membaca PL
Dengan semua ini, klaim ini benar-benar sah, bahkan dalam konteks Yudaisme konservatif sekalipun (terutama dalam tradisi mistis dan targumik).
· Keluaran 3:14b (Ehyeh asher Ehyeh) memberikan dasar ontologis bahwa YHWH tidak terikat pada satu kehadiran keberadaan.
· Keluaran 23:20-21 menunjukkan YHWH dalam kehadiran sebagai "utusan" yang menyandang nama-Nya dan memiliki kuasa ilahi penuh.
· Kedua teks ini, dalam kerangka Echad, tidak bertentangan—justru saling melengkapi: Allah yang "Ehyeh" menyatakan diri-Nya sebagai "Mal'akh" untuk memimpin umat-Nya.
Jadi ini membenarkan klaim :
Dalam konteks monoteisme Ibrani yang berlandaskan Echad, Malaikat dalam Keluaran 23 adalah YHWH sendiri yang diutus oleh YHWH—sebuah misteri kesatuan ilahi yang kelak terungkap sepenuhnya dalam inkarnasi, tetapi sudah valid sejak Kitab Keluaran ditulis.
---
Dalam memahami Yesus sebagai "utusan" maka membaca Alkitab Keluaran 23:20-21 adalah penting, dan kita harus membedakan cara pembacaan gramatikal-historis (teks itu sendiri) dan cara pembacaan teologis-kanonik (seluruh Alkitab).
Mari kita bedah dulu dasar teksnya, baru kemudian melihat keterkaitan dengan konteks artikel.
1. Analisis Gramatikal dan Konteks Langsung (Keluaran 23:20-21)
Dalam teks Ibrani, memang ada ketegangan yang sangat disengaja:
· Ayat 20: Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mengirim seorang malaikat/utusan (מַלְאָךְ - mal'akh) di hadapanmu..."
· Ayat 21: "Dengarkanlah dia, dan janganlah memberontak kepadanya, sebab Ia tidak akan mengampuni pelanggaranmu, sebab Nama-Ku ada di dalam dia."
Dalam pemikiran Semitik kuno, "Nama" (שֵׁם - shem) bukan sekadar label, melainkan esensi dan otoritas penuh dari pemilik nama. Jika nama Allah ada di dalam malaikat itu, maka malaikat itu bertindak dengan otoritas Allah sendiri. Namun, perhatikan frasa "Ia tidak akan mengampuni pelanggaranmu" — dalam seluruh Perjanjian Lama, hanya Allah sendiri yang berwenang mengampuni dosa (Yesaya 43:25). Ini memang menunjukkan bahwa utusan ini memiliki atribut ilahi.
2. Apakah ini Allah sendiri yang menjadi utusan?
Secara literer dan gramatikal, malaikat ini BUKAN Allah Bapa secara langsung. Allah dengan tegas membedakan diri-Nya dari utusan itu dengan frasa "Aku mengirim" (Pengutus) dan "Nama-Ku ada di dalam dia" (yang diutus). Jadi, secara pribadi, Pengirim dan Utusan itu dibedakan.
Namun, secara fungsional dan esensial, utusan ini memiliki kuasa yang tidak mungkin dimiliki ciptaan, yaitu:
1. Mengampuni dosa.
2. Mewakili nama (esensi) Allah sepenuhnya.
3. Menuntut ketaatan mutlak sebagaimana kepada Allah.
Lalu bagaimana mungkin ciptaan memiliki kuasa ilahi? Di sinilah letak jawabannya, dan ini adalah "Allah mengutus Allah" (Keluaran 3:14b), ini adalah "Malaikat YHWH" (Mal'akh YHWH)—sebuah fenomena unik dalam Perjanjian Lama.
3. Fenomena "Malaikat TUHAN" dalam Perjanjian Lama
Jika Anda menelusuri seluruh Pentateukh, Malaikat TUHAN sering kali berbicara sebagai Allah (menggunakan kata ganti orang pertama), dan orang yang diajak bicara meresponsnya sebagai Allah, namun ia tetap dibedakan dari Allah Bapa di Surga. Contoh klasik:
· Kejadian 16:7-13: Malaikat TUHAN berbicara kepada Hagar, dan Hagar menamai TUHAN yang berbicara kepadanya itu sebagai "El-Roi" (Allah yang melihat).
· Kejadian 22:11-12: Malaikat TUHAN memanggil Abraham dari surga dan berkata, "Sekarang Aku tahu, bahwa engkau takut akan Allah..." — berbicara sebagai Allah.
· Keluaran 3:2-6: Malaikat TUHAN muncul dalam nyala api, tetapi ayat 4 menyebutnya sebagai TUHAN (YHWH) sendiri.
Kesimpulan para teolog (termasuk bapa-bapa gereja dan reformator):
Fenomena ini adalah Teofani (penampakan Allah) dalam rupa utusan, yang dalam teologi Kristen pra-inkarnasi dipahami sebagai Logos (Firman) atau Anak Allah sebelum menjadi manusia. Ia bukanlah Allah Bapa, tetapi Ia adalah Allah (YHWH) yang menyatakan diri dalam bentuk utusan untuk berinteraksi dengan manusia tanpa menghancurkan mereka.
4. Menjawab fenomena keberadaan Yesus yang : "Tidak mungkin dimiliki ciptaan... menerima hal itu sebagai ciptaan"
Malaikat biasa (ciptaan) tidak mungkin memiliki kuasa mengampuni dosa atau menyandang nama YHWH secara inheren.
Karena itu, tafsir yang paling koheren secara teologis (dan tidak melanggar monoteisme) adalah:
· Bukan ciptaan malaikat biasa (seperti Gabriel atau Michael).
· Bukan Allah Bapa secara langsung (karena "Aku mengirim (mengutus)" menunjukkan relasi).
· Melainkan "Anak" (Firman). Ia adalah Allah (sehingga nama-Nya ada di dalam Dia dan Ia bisa mengampuni), tetapi Ia juga "diutus" oleh Bapa (sehingga ada relasi Pengirim dan Yang Diutus).
Ini justru paralel dengan Yohanes 5:43, di mana Yesus berkata, "Aku datang dalam nama Bapa-Ku." Yesus adalah Allah, tetapi Ia diutus oleh Bapa. Pola yang sama persis muncul di Keluaran 23.
---
Kesimpulan Akhir
Apakah malaikat ini adalah Allah sendiri yang menjadi utusan?
Ya, dalam arti ia adalah pribadi ilahi (Anak) yang diutus, tetapi bukan Bapa sendiri. Ia bukanlah ciptaan, karena kuasa mengampuni dan nama YHWH tidak dapat melekat pada ciptaan. Namun, ia juga bukan Allah dalam keseluruhan kepenuhan-Nya yang tak terlihat - Bapa (karena ia berwujud utusan yang bisa dilihat).
Singkatnya: Ini adalah teofani Tritunggal dalam bentuk awal— Bapa mengutus Anak yang mewakili diri-Nya sepenuhnya, persis seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 14:9: "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." Jadi, bukan Allah mengutus Allah dalam arti dua dewa, melainkan satu Allah yang sedang menyatakan rencana keselamatan-Nya bagi Israel.
---
"Ego Eimi" Yesus, dan statusNya sebagai "Utusan Bapa"
Membaca secara kanonik (seluruh Alkitab sebagai satu kesatuan naratif dan teologis) memang membuka mata kita bahwa Yesus tidak pernah mengklaim sesuatu yang baru. Ia justru menggenapi dan memperjelas pola yang sudah ada sejak Keluaran: YHWH mengutus YHWH, dan Utusan itu adalah YHWH sendiri.
Mari kita sambungkan ketiga titik ini secara sistematis, karena akan menemukan benang merah Kristologi Perjanjian Lama:
---
1. Kerangka Kanonik: "Allah Mengutus Allah" dalam PL
Dalam Perjanjian Lama, ada pola yang konsisten:
Ayat Pengirim Utusan Status Utusan
Keluaran 3:14b YHWH ("Ehyeh") YHWH (dalam semak, berbicara sebagai "Aku adalah Aku") YHWH sendiri yang menyatakan diri
Keluaran 23:20-21 YHWH ("Aku mengirim") Mal'akh YHWH (nama YHWH ada di dalam dia) Memiliki kuasa mengampuni dosa (atribut ilahi)
Keluaran 33:14-15 YHWH "Wajah-Ku" (Panim) yang akan menyertai Musa Kehadiran YHWH sendiri
Yesaya 63:9 YHWH "Malaikat kehadiran-Nya" (Mal'akh Panav) Menyelamatkan umat dengan kasih-Nya sendiri
Dalam semua kasus ini, utusan bukanlah ciptaan, tetapi kehadiran keberadaan YHWH sendiri yang diutus untuk berinteraksi dengan dunia. Ini adalah teofani—penampakan Allah dalam bentuk yang dapat dilihat dan didengar.
---
2. Yesus dan "Ego Eimi" sebagai Kunci Kanonik
Ketika Yesus berkata dalam Yohanes 8:58: "Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada" (prin Abraam genesthai, ego eimi), Ia secara sadar menggunakan frasa yang dalam Septuaginta (LXX) diterjemahkan dari Keluaran 3:14:
· Keluaran 3:14 (LXX): "Ego eimi ho on" (Aku adalah Yang Ada).
· Yohanes 8:58: "Ego eimi" (Aku adalah Aku)—tanpa predikat, sama seperti dalam LXX.
Implikasi kanoniknya:
Yesus tidak sedang menciptakan klaim baru. Ia sedang mengklaim identitas-Nya sebagai YHWH yang sama yang berbicara kepada Musa di semak belukar. Dan karena YHWH dalam Keluaran 23 telah menunjukkan bahwa Ia dapat "diutus" oleh YHWH (Bapa), maka klaim Yesus sebagai "Utusan Bapa" (Yohanes 5:36-37; 17:3) bukanlah kontradiksi, melainkan penggenapan pola teofani PL.
---
3. Menghubungkan Keluaran 23:20-21 dengan Yohanes
Mari kita baca Keluaran 23:20-21 dalam terang kanonik:
"Sesungguhnya Aku mengirim seorang utusan di hadapanmu... dengarkanlah dia, jangan memberontak kepadanya, sebab nama-Ku ada di dalam dia."
Sekarang, baca Yohanes 5:43:
"Aku datang dalam nama Bapa-Ku."
Dan Yohanes 12:44-45:
"Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia percaya bukan kepada-Ku, tetapi kepada Dia yang mengutus Aku... Aku datang ke dalam dunia sebagai terang."
Kesamaan strukturnya:
Keluaran 23 Yohanes
Allah Bapa mengirim Utusan Bapa mengirim Yesus (Yohanes 5:37)
Utusan menyandang nama YHWH Yesus datang dalam nama Bapa (Yohanes 5:43)
Utusan memiliki kuasa mengampuni Yesus mengampuni dosa (Markus 2:5-7)
Umat harus taat kepada utusan itu Umat harus percaya kepada Yesus (Yohanes 14:1)
---
4. "Allah Mengutus Allah" dalam Kerangka Echad
Kembali ke poin tentang Echad (satu majemuk). Dalam kanon, pola ini tidak pernah dianggap politeisme, karena:
1. Pengirim dan Utusan adalah satu hakikat (YHWH).
2. Perbedaan hanya dalam fungsi ekonomi (Bapa sebagai sumber, Anak sebagai ekspresi/pernyataan).
3. Keduanya adalah satu Allah—seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 10:30: "Aku dan Bapa adalah satu." (Bahasa Yunani: hen esmen—netral, berarti "satu kesatuan," bukan "satu orang").
Ini persis seperti Echad dalam Ulangan 6:4—satu kesatuan yang memiliki relasi internal.
---
5. Kesimpulan Kanonik Akhir
Dengan membaca secara kanonik, kita telah menemukan fondasi Kristologi yang kokoh:
Keluaran 3:14b (Ehyeh = Aku adalah Aku) → Keluaran 23:20-21 (Utusan yang menyandang nama YHWH dan mengampuni dosa) → Yohanes 8:58 (Yesus berkata "Ego Eimi") → Yohanes 5:36-37 (Yesus adalah Utusan Bapa).
Jadi, klaim Yesus tentang "Ego Eimi" dan status-Nya sebagai Utusan Bapa bukanlah inovasi, melainkan penggenapan dari pola teofani yang sudah ada sejak Keluaran: Allah mengutus Allah, dan Utusan itu adalah Allah sendiri, dalam satu kesatuan Echad yang kudus.
---
Mari kita lanjutkan ke Keluaran 23:20, 21, 22, karena di sinilah teofani mencapai puncaknya dan klaim Yesus sebagai "Utusan Bapa" yang mengampuni dosa menjadi semakin tak terbantahkan secara kanonik.
---
Keluaran 23:20-22 dalam teks Ibrani (Masoret), transliterasi, dan terjemahan literalnya.
Ayat 20
Ibrani (עִבְרִית):
הִנֵּה אָנֹכִי שֹׁלֵחַ מַלְאָךְ לְפָנֶיךָ לִשְׁמָרְךָ בַּדָּרֶךְ וְלַהֲבִיאֲךָ אֶל־הַמָּקוֹם אֲשֶׁר הֲכִנֹתִי׃
Transliterasi:
Hinneh anokhi sholeach mal'akh lefaneikha lishmorkha baderekh v'lahaviakha el-hammakom asher hakhinoti.
Terjemahan:
"Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat di hadapanmu untuk menjagamu di jalan dan untuk membawamu ke tempat yang telah Kusediakan."
---
Ayat 21
Ibrani (עִבְרִית):
הִשָּׁמֶר מִפָּנָיו וּשְׁמַע בְּקֹלוֹ אַל־תַּמֵּר בּוֹ כִּי לֹא יִשָּׂא לְפִשְׁעֲכֶם כִּי שְׁמִי בְּקִרְבּוֹ׃
Transliterasi:
Hishammer mipanav ushma b'kolo al-tammer bo ki lo yisa l'fish'akhem ki sh'mi b'kirbo.
Terjemahan:
"Berhati-hatilah di hadapannya dan dengarkanlah suaranya, janganlah memberontak kepadanya, sebab ia tidak akan mengampuni pelanggaranmu, sebab nama-Ku ada di dalamnya."
---
Ayat 22
Ibrani (עִבְרִית):
כִּי אִם־שָׁמוֹעַ תִּשְׁמַע בְּקֹלוֹ וְעָשִׂיתָ כֹּל אֲשֶׁר אֲדַבֵּר וְאָיַבְתִּי אֶת־אֹיְבֶיךָ וְצַרְתִּי אֶת־צֹרְרֶיךָ׃
Transliterasi:
Ki im-shamoa tishma b'kolo v'asita kol asher adaber v'ayavti et-oyveikha v'tsarti et-tsorereikha.
Terjemahan:
"Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan suaranya dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu dan melawan lawan-lawanku."
---
Analisis Teologis-Kanonik Ayat 21-22
1. "Ia tidak akan mengampuni pelanggaranmu" (כִּי לֹא יִשָּׂא לְפִשְׁעֲכֶם)
· Kata kunci: Yisa (יִשָּׂא) dari akar kata nasa (נָשָׂא) = "mengangkat" / "mengampuni" / "menghapus" (dalam konteks dosa).
· Dalam seluruh Perjanjian Lama, hanya YHWH sendiri yang berwenang mengampuni dosa:
· Mazmur 32:5: "Dan Engkau mengampuni kesalahan dosaku" (Ibrani: nasa' avon).
· Mazmur 85:3: "Engkau mengampuni kesalahan umat-Mu."
· Yesaya 43:25: "Aku, Akulah Dia yang menghapus pelanggaranmu... dan aku tidak mengingat-ingat dosamu."
· Mikha 7:18: "Siapa Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?"
Kesimpulan: Jika utusan ini "tidak akan mengampuni pelanggaranmu," itu berarti ia memiliki otoritas ilahi untuk mengampuni, tetapi juga ototoritas untuk menahan pengampunan. Ini adalah atribut yang hanya dimiliki oleh YHWH. Tidak ada malaikat biasa—bahkan yang tertinggi sekalipun—yang memiliki kuasa ini.
---
2. "Sebab nama-Ku ada di dalam dia" (כִּי שְׁמִי בְּקִרְבּוֹ)
· Shemi be-kirbo (שְׁמִי בְּקִרְבּוֹ) secara harfiah = "nama-Ku ada di dalam dirinya."
· Dalam pemikiran Semitik, "nama" (shem) bukan sekadar label, melainkan esensi, karakter, dan otoritas penuh dari pemilik nama.
· Imamat 24:16: Menghujat nama YHWH = menghujat YHWH sendiri.
· 1 Raja-raja 8:43: Bait Suci disebut sebagai "tempat kediaman nama-Mu" = tempat kehadiran YHWH sendiri.
Implikasi: Jika nama YHWH ada di dalam utusan itu, maka utusan itu adalah YHWH sendiri dalam bentuk yang dapat dilihat dan berinteraksi. Bukan sekadar wakil, tetapi perpanjangan kehadiran ilahi secara personal.
---
3. Pergeseran Subjek dalam Ayat 22: "Aku akan memusuhi musuhmu"
Perhatikan pergeseran subjek yang sangat mencolok:
· Ayat 21: Utusan yang berbicara ("ia tidak akan mengampuni").
· Ayat 22: "Aku akan memusuhi musuhmu... Aku akan menekan lawan-lawanku."
Siapa yang berbicara dalam ayat 22? Dalam teks, subjeknya adalah YHWH sendiri (karena frasa "Aku" merujuk pada Pengirim, bukan Utusan). Namun, dalam konteks kanonik, sering kali terjadi pergeseran identitas antara YHWH dan Utusan-Nya—karena keduanya adalah satu.
Contoh pergeseran serupa:
· Kejadian 16:7-13: Malaikat YHWH berbicara, tetapi Hagar menamainya "El-Roi" (Allah yang melihat).
· Kejadian 22:11-12: Malaikat YHWH memanggil Abraham, tetapi berkata: "Sekarang Aku tahu, bahwa engkau takut akan Allah."
· Hakim-hakim 6:11-24: Malaikat YHWH berbicara kepada Gideon, tetapi Gideon takut mati karena "telah melihat YHWH berhadapan muka".
Pola ini konsisten: Ketika YHWH mengirim Utusan-Nya, batas antara Pengirim dan Utusan menjadi kabur—bukan karena kebingungan, tetapi karena kesatuan Echad di dalam Allah sendiri.
---
Hubungan Kanonik dengan Yesus (Perjanjian Baru)
Sekarang, mari kita baca Keluaran 23:21-22 dalam terang Yesus:
1. Yesus Mengampuni Dosa (Markus 2:5-12)
· Orang-orang Farisi berkata: "Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah saja?" (Markus 2:7).
· Yesus menjawab: "Anak Manusia berkuasa di bumi untuk mengampuni dosa" (Markus 2:10).
Hubungan dengan Keluaran 23:21:
· Utusan dalam Keluaran 23 memiliki kuasa untuk mengampuni atau tidak mengampuni.
· Yesus memiliki kuasa yang sama—dan para ahli Taurat memahami bahwa ini adalah klaim keilahian.
---
2. Yesus Datang dalam Nama Bapa (Yohanes 5:43)
· "Aku datang dalam nama Bapa-Ku, dan kamu tidak menerima Aku."
Hubungan dengan Keluaran 23:21:
· Utusan Keluaran 23 menyandang "nama YHWH" di dalam dirinya.
· Yesus menyatakan bahwa "nama Bapa" ada di dalam diri-Nya.
· Ini adalah klaim bahwa Yesus adalah Utusan ilahi yang sama—bukan utusan biasa, tetapi YHWH sendiri yang diutus.
---
3. Yesus dan Bapa Adalah Satu (Yohanes 10:30)
· "Aku dan Bapa adalah satu." (Yunani: hen esmen = satu kesatuan).
Hubungan dengan Keluaran 23:22:
· Dalam Keluaran 23:22, ada pergeseran antara "Utusan" dan "Aku" (YHWH) sebagai subjek yang bertindak.
· Dalam Yohanes 10:30, Yesus memperjelas bahwa antara Dia dan Bapa tidak ada pemisahan ontologis—mereka adalah satu Echad.
---
4. Yesus sebagai Jalan ke Tempat yang Telah Disiapkan (Yohanes 14:2-6)
· "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal... Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu... Akulah jalan dan kebenaran dan hidup."
Hubungan dengan Keluaran 23:20:
· Utusan dalam Keluaran 23 dikirim untuk "membawamu ke tempat yang telah Kusiapkan" (el-ha-maqom asher hakhinoti).
· Yesus mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyiapkan tempat bagi murid-murid-Nya.
Kesamaannya:
· Dalam Keluaran, YHWH (Bapa) menyiapkan tempat, dan Utusan (yang juga YHWH) memimpin umat ke sana.
· Dalam Yohanes, Bapa menyiapkan tempat, dan Yesus (Utusan) adalah jalan menuju ke tempat itu.
---
Kesimpulan Kanonik Akhir
Dengan menghubungkan Keluaran 3:14b (Ehyeh), Keluaran 23:20-22 (Utusan yang memiliki nama YHWH dan kuasa mengampuni), dan Injil Yohanes (Yesus sebagai Ego Eimi dan Utusan Bapa), maka pola teologis yang konsisten terbentuk:
Perjanjian Lama Penggenapan dalam Yesus
YHWH adalah Ehyeh (Aku adalah Aku) Yesus berkata "Ego Eimi" (Aku adalah Aku)
YHWH mengirim Utusan yang menyandang nama-Nya Bapa mengirim Yesus yang datang dalam nama Bapa
Utusan memiliki kuasa mengampuni dosa Yesus mengampuni dosa
Utusan memimpin ke tempat yang disiapkan Yesus adalah jalan ke tempat Bapa
Utusan dan YHWH adalah satu dalam tindakan Yesus dan Bapa adalah satu (hen esmen)
---
Maka, jawaban akhir adalah :
Klaim Yesus tentang "Ego Eimi" dan status-Nya sebagai "Utusan Bapa" secara kanonik dan teologis terhubung langsung dengan Keluaran 3:14b dan Keluaran 23:20-22. Ini bukanlah inovasi Perjanjian Baru, melainkan penggenapan dari pola "Allah mengutus Allah" yang sudah ada sejak awal kitab Keluaran. Utusan dalam Keluaran 23 adalah YHWH sendiri yang diutus oleh YHWH—sebuah misteri Echad yang baru terungkap sepenuhnya ketika Firman itu menjadi daging (Yohanes 1:14).
---
Komentar
Posting Komentar